INVESTASI

Penuhi Kebutuhan di Masa Depan dengan Investasi di Pasar Modal

Setiap orang pasti punya kebutuhan dan keinginan. Terkadang kedua hal ini malah bersinggungan, sampai kita sendiri susah membedakan mana yang benar-benar kebutuhan, mana yang hanya keinginan. Jenis kebutuhan kita pun terus berubah seiring waktu, kebutuhan kita saat remaja tentu berbeda dengan kebutuhan saat kita dewasa.

Kebutuhan kita ini biasanya berbanding lurus dengan beban tanggung jawab yang kita punya, misalnya saat memutuskan untuk mandiri tanpa bantuan orang tua, maka paling tidak muncul kebutuhan membeli rumah sendiri. Lalu berlanjut dengan kebutuhan membeli mobil, menikah, mempersiapkan dana pendidikan anak, dan segudang kebutuhan lainnya. Belum lagi keinginan untuk beli gadget terbaru, nonton konser, hingga rencana liburan. Kamu juga sudah merencanakan hal-hal di atas? Nah, salah satu cara mempersiapkan dana untuk mewujudkan rencana-rencana tersebut adalah dengan berinvestasi.

Dengan berinvestasi, kita dapat mengumpulkan uang sekaligus terhindar dari risiko nilai uang yang tergerus oleh kenaikan inflasi. Salah satu opsi investasi yang potensi keuntungannya besar adalah di pasar modal, seperti saham. Dua puluh tahun lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki nilai 546,69, per 31 Agustus 1997. Kini, IHSG bernilai 5.864,06 atau naik 972%. Bayangkan jika kamu menginvestasikan uang 1 juta rupiah kala itu. Sekarang uang kamu telah menjadi 10,7 juta rupiah. Untung besar ‘kan? Tapi kamu harus selalu ingat ya, potensi keuntungan yang besar selalu beriringan dengan risiko yang besar. Jadi selain menghitung keuntungan yang akan kamu dapatkan, kamu juga harus siap dengan risikonya.

Tapi kenapa sih investasi di pasar modal punya potensi keuntungan sebesar itu? Ada beberapa faktor yang memengaruhi pertumbuhan IHSG.

Pertama, inflasi yang kerap meningkat setiap tahunnya. Kenaikan inflasi biasanya akan diikuti oleh kenaikan harga barang dan jasa. Kenaikan harga ini berpengaruh pada keuntungan atau laba yang didapat oleh produsen barang dan penyedia jasa. Dengan kenaikan laba, berarti pendapatan pemegang saham, termasuk pemilik reksa dana yang investasinya di perusahaan tersebut, ikut naik. Akhirnya harga saham perusahaan tersebut akan naik.

Kedua, populasi penduduk yang terus bertambah. Populasi penduduk Indonesia juga memengaruhi kenaikan IHSG. Menurut proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia tahun 2017 mencapai 261,8 juta jiwa. Jumlah penduduk yang bertumbuh tiap tahun ini membuat permintaan masyarakat terhadap suatu barang atau jasa meningkat. Akibatnya keuntungan perusahaan naik, pendapatan pemegang saham juga ikut naik dan harga saham ikut naik.

Ketiga, pertumbuhan ekonomi.  Perekonomian Indonesia memang memiliki potensi perkembangan yang positif. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan besarnya keterlibatan perusahaan publik yang terdaftar di bursa, artinya tingginya pertumbuhan ekonomi ada hubungannya dengan tinggi keuntungan yang dihasilkan perusahaan-perusahaan tersebut. Keuntungan perusahaan tinggi, pendapatan saham meningkat, berarti harga saham naik. Nah, tahun lalu perekonomian Indonesia bertumbuh 5,02%. Bahkan, pertumbuhannya mencapai dua kali lipat pertumbuhan ekonomi dunia di angka 2,4%.

Perlu diingat, bahwa investasi di pasar modal bukan hanya menguntungkan, tapi juga aman. Bukan berarti 100% tidak mungkin rugi, ya. Aman artinya kamu tidak akan tertipu investasi bodong yang berakhir merugikan, karena kegiatan pasar modal bersifat legal dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Nah, jangan tunda lagi. The sooner, the better.

Kalau kamu belum yakin untuk berinvestasi langsung di saham, kamu bisa mulai mencoba berinvestasi di reksa dana saham.

Lho apa bedanya?

Bedanya, di reksa dana kamu dapat berinvestasi dengan lebih mudah dan terjangkau. Kamu hanya perlu memilih produk yang cocok dengan tujuan investasi dan besar risiko yang kamu inginkan, lalu menyetorkan uangmu ke perusahaan manajemen investasi, dan biarkan uangmu bekerja untuk kamu.