INSPIRASI

Mari Sehat Raga (dan Finansial) di 2018!

Tahun 2018 telah dimulai. Di awal tahun, kebiasaan masyarakat urban adalah membuat resolusi untuk dua belas bulan berikutnya, salah satunya yaitu komitmen hidup sehat dengan berjanji lebih rajin menghabiskan waktu di pusat kebugaran atau gym.

Berdasarkan hasil riset IHRSA Asia Pasific[1], masyarakat Indonesia rela membayar minimal 250 ribu rupiah untuk menjadi member di gym. Sebagian besar mereka menghabiskan waktunya dengan cardio lewat berlari di treadmill.

Ada satu hal yang membuat berlari di treadmill serupa dengan menabung di reksa dana. Keduanya merupakan investasi, sama-sama menghasilkan manfaat nyata; satu di health dan satunya lagi di wealth. Apa sih tantangan terbesar untuk keduanya? Jawaban singkatnya adalah: memulai langkah pertama.

Reksa dana dan treadmill

Seringkali, keduanya sama-sama sukar dimulai. Pernahkah kamu pulang dari kantor tepat waktu, berniat berolahraga barang satu jam, namun berat sekali rasanya melangkah menuju gym. Padahal lokasinya hanya terpaut 8 menit jalan kaki (kamu sengaja mendaftar ke gym yang terletak di mall bawah gedung kantormu).

Alih-alih bersepeda statis selama 60 menit, kamu melangkah pulang dengan iced caramel macchiato di tangan kanan, sambil berpikir “ah, besok saja nge-gym” – untuk yang kesekian kalinya. Nyatanya besok, kamu lupa sudah punya janji makan malam dengan teman lama, sehingga gym lagi-lagi harus menunggu sampai entah kapan. Tanpa terasa, bulan Januari sudah berakhir.

Terkadang, memulai suatu hal justru terasa lebih sulit daripada hal itu sendiri. Sama halnya dengan berinvestasi di reksa dana, pikiran-pikiran seperti “sekarang masih ribet, nanti begitu free saya akan pelajari tentang reksa dana”, atau “nanggung ah, tunggu gajian bulan depan saja” dan ribuan alasan lainnya yang menghalangi kita untuk memulai berinvestasi reksa dana. Tanpa disadari, tahun sudah berganti, tabungan terkonsumsi untuk hal-hal non-esensial, namun inflasi tidak menunggu.

Memulai di usia muda itu baik. Namun lebih penting lagi—memulai sekarang, berapapun usiamu hari ini.

Tidak ada kata terlambat berinvestasi karena inflasi selalu ada, khususnya di Indonesia. Meskipun gajimu naik tiap tahunnya, secara historis, tingkat dan fluktuasi inflasi Indonesia rata-rata mencapai 8.5%, lebih tinggi dibanding rata-rata negara berkembang lainnya yang hanya 3-5% hingga 2014[2].

Hari ini, investasi khususnya reksa dana bukan lagi mahluk ‘asing’ yang di luar jangkauan. Informasi akurat perkembangan produk reksa dana dengan bahasa awam melimpah di dunia maya. Jika kamu mahasiswa, kamu bisa lebih cerdas ‘memutar’ sebagian budget ngopimu pada ratusan pilihan produk investasi yang dikelola manajer investasi handal hanya melalui smartphone. Laporan bulanan dikirimkan ke e-mail pribadi, kamu dapat memantau perkembangan uang ngopi tadi setiap bulan. Tidak mau menunggu? kamu juga bisa mengecek perkembangan harian investasimu via aplikasi mobile platform penjual reksa dana digital yang diawasi OJK, salah satunya adalah tanamduit.

Start small, but start right away.

Kembali ke treadmill. Jika nanti sore kamu membulatkan tekad melangkah ke gym dan berkomitmen terhadapnya, tanpa disadari dalam beberapa bulan kamu bisa melihat otot perut yang semakin terbentuk. Teruskan berkomitmen, maka dalam beberapa tahun fitness sudah menjadi gaya hidupmu. Sama halnya dengan berinvestasi reksa dana. Tanpa terasa, uang kopi yang kamu ‘tanam’ di awal tahun ini, akan mulai ‘berbuah’ manis di akhir tahun. Lima tahun lagi, mungkin kamu sibuk mengurus soft-opening kedai kopimu sendiri. Mulai kecil, namun jangan tunda lagi!

 

 

referensi:

[1] IHRSA Asia Pacific Market Report, 2008

[2] Indonesia Investment Online, 2017