INSPIRASI

Berlibur Kok Stres?

Seorang teman yang bekerja di salah satu perusahaan konsultan brand lokal pernah berkata, “dengan tekanan kerja sekarang ini, traveling itu kebutuhan”.

Pernyataan tersebut menggelitik saya. Teman saya adalah representasi kaum pekerja milenial perkotaan yang berpenghasilan cukup besar, namun tekanan kerja mendorong kebutuhan kategori sekunder atau bahkan tersier menjadi primer baginya. Liburan adalah hiburan, dan bagi banyak pekerja muda kota besar, hiburan menjadi kebutuhan pokok.

Sayangnya bagi teman saya, ia terpaksa berjuang menyisihkan gaji perbulannya demi memenuhi kebutuhan traveling yang tidak murah. Kadang ia harus ‘mengorbankan’ budget kebutuhan primer lainnya guna membiayai ongkos pesawat. Hitung punya hitung, traveling yang ditujukan menghilangkan stres malah berujung menambah stres finansial.

Jika traveling sudah terlanjur bergeser menjadi kebutuhan pokok, maka kita perlu perencanaan dan pengelolaan budget liburan yang lebih cerdas.

Sebelum liburan

  • Siapkan travel fund.

Rencanakan liburanmu minimal setahun sebelumnya, dan buatlah rekening travel fund khusus untuk liburanmu.

  • Kurangi kuantitas pengeluaran sekunder.

Telusuri pengeluaran perbulan menggunakan money-tracking apps seperti mint.com atau Pocket Expense. Kategorikan pengeluaran yang termasuk sekunder (uang rokok / nonton bioskop / wisata kuliner) dan kurangi masing-masingnya sebesar 25%. Pindahkan ke travel fund.

  • Investasikan travel fund.

Putarlah tabungan travel fund di instrumen investasi. Reksa dana dapat menjadi solusi cerdas untuk keperluan ini.

  • Jika kamu berencana berlibur tahun depan, manfaatkan produk reksa dana pasar uang yang memang diperuntukkan bagi investasi singkat.
  • Jika kamu merencanakan liburan besar untuk dua atau tiga tahun kedepan, pilih produk reksa dana campuran atau saham yang berpotensi high return dalam jangka panjang.

Saat liburan

  • Manfaatkan gig-economy

Manfaatkan perkembangan teknologi yang memungkinkan kamu menghemat pengeluaran. Saat ini, kamu bisa menginap setengah harga bahkan gratis tanpa biaya sepeserpun melalui platform seperti AirBnB atau Couchsurfing. Selain efisien, gig-economy platform yang memanfaatkan ekonomi pinjam-meminjam ini menawarkan pengalaman berinteraksi langsung dengan penduduk lokal yang sukar didapat jika kita menginap di hotel.

Intinya, dengan pengelolaan budget yang cerdas, sah-sah saja menghibur diri dengan traveling. Bahkan, mengeksplor lokasi-lokasi liburan tertentu serta mengamati kultur baru dapat menjadi sumber inspirasi untuk ide kreatif di pekerjaan, menambah networking serta memicu produktivitas.

Jadi, sudah terbayang mau berlibur ke mana tahun depan?